Hari ini hari emang lebih cerah dari beberapa hari lalu. Matahari gak pake malu-malu lagi untuk keluar di malam hari. Jadi saya harus semangat, biar gak malu-maluin matahari. Matahari bersemangat memancarkan sinarnya setiap hari. Kita juga harus semangat karena disinari matahari… hehehe.
Banyak juga yang pengen diceritain hari ini. Tapi sayangnya blognya terbatas. dan kayaknya lagi gak begitu mood nulis. Tapi kalo kata Imam Bukhari, kamu kerjakan saja yang kamu merasa malas melakukannya. Jadi kalo ragu cuman satu obatnya, LAKUKAN! begitu sodara-sodara…
Hari ini emang hari yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kan hari itu makhluk. dan hari ini akan berbeda dengan hari esok. Dan hari ‘ini’ akan menjadi saksi kita nantinya. wallahualam.. pernah baca di mana gitu, tapi lupa.
Memulai hari dengan bangun pukul 6 pagi. Telat, kekeke. karena tidurnya terlalu malam. Besok saya akan bangun lebih pagi. Janji. ngerjain TA sebentar. Eh keterusan sampe jam 10, pake acara facebook, ngeblog, dan maen ama Rambo. hehehe, itung-itung sambil refreshing. Berangkat dengan sqibo yang belum mandi (maaf ya sqibo, besok kumandiin di tempat yang bagus). datang tepat pukul 11.00 wib, dengan keadaan lahan parkir yang masih sepi. Mungkin karena banyak yang tidak kuliah, dan TPB mempersiapkan ujian buat sorenya. Jadi masuk parkir depan gerbang utara persis. kekeke. Jadi deket ama PAU.
Di PAU pun memulai aktivitas. Ada joblist yang belum bisa saya selesaikan di rumah, dan minta bantuan pada teman2 satu tim. tim Modelling namanya. thx guys. Dan akhirnya bisa beres juga mepet ama jam presentasi. hehehe. Emang terkadang dengan dipaksakan kita akan mempush limit diri kita. jangan lihat hasilnya. Tapi kita sudah pasti harus menuju tujuan kita. minimal mendekati goal kita.
Jumatan pukul 11.30. Ndak terasa, ternyata di luaran hujan deras. Dan saya berbagi payung sama Pak Trio. Dan mengobrol sepanjang perjalanan ke Salman. Beliau orang luar biasa, dengan penampilan bersahaja. Emang, rata-rata dosen di kampusku begitu, luar biasa tapi tetap bersahaja. hehe, diulang…
Beliau menceritakan tentang keadaan beliau di Jepang. beliau rupanya ikut seperti ini juga waktu studi di Jepang. Pendidikan Tinggi di jepang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan industri di luaran. Jadinya RnD Jepang sangat maju. karena jumlah anggota RnD di sana jumlahnya sangat banyak. berbeda dengan di Indonesia. Ada beberapa perusahaan manufaktur yang sangat besar, justru RnD-nya cuman sedikit. rupanya Indonesia emang jadi sasaran sebagai bangsa pekerja, bukan bangsa pemikir. Terlihat dari sistem yang ada. Kalo kita ngeliat, Google, mereka membuka jalur khusus dengan universitas. Universitas akan memberikan pengembangan dan perusahaan akan memberikan jaminan dana untuk kelangsungan hidup si perusahaan universitas. Jadi di sana, universitas membuat sebuah lahan khusus bagi para profesor untuk membuat suatu bentuk usaha. Nah inilah yang jadi nilai lebih pendidikan tinggi di luar sana. Mungkin beberapa tahun lagi kampus Indonesia akan menuju seperti itu.. Begitu kurang lebih obrolan kami sepanjang jalan ke Salman. hehehe…
Saat ini mungkin saya, belum membuka mata, telinga dan hari saya.. Padahal keadaan di sana jauh lebih berat dan lebih menantang. Waktunya mulai dari sekarang, buka mata, buka telinga, buka Hati dan Taklukan Dunia